
Foto bersama Tim Peneliti dengan para peserta pada kegiatan Public Expose Hasil Penelitian Mora – The Air Fund 2026 di Teater Lantai 2 Fdikom UIN Jakarta (DNK TV/Wafiq Mualim Adib)
Tangerang Selatan – Kamis (7/10). Tim peneliti Ministry of Religious Affairs – The Awakened Indonesian Research Funds 2026 (MoRA The AIR Funds 2026) mengembangkan model komunikasi politik digital berbasis Trustworthy and Explainable Artificial Intelligence (TREX-AI) untuk mengukur dan memetakan risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital. Penelitian tersebut dipaparkan dalam kegiatan Public Expose Hasil Penelitian MORA – The Air Fund 2026 yang berlangsung di Ruang Teater Lantai 2 Fdikom UIN Jakarta.
Gun Gun Heryanto, sebagai ketua peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin besarnya proporsi masyarakat yang beraktivitas di ruang digital, khususnya generasi digital native. Kondisi tersebut membuat ruang digital perlu mendapatkan perhatian, termasuk dalam melihat perkembangan narasi yang memiliki kecenderungan ekstremisme keagamaan.
“Sebenarnya ini riset, bukan hanya didedikasikan untuk menciptakan aplikasi. Kalau hanya buat aplikasi nggak perlu riset. Jadi riset itu justru untuk melihat pola aktor atau komunikator, saluran, ya kan? Kemudian komunikan di digital, termasuk juga dampak yang muncul. Itu yang disebut dengan model komponensial dari komunikasi,” ujar Gun Gun.
Dalam pengembangannya, TREX-AI memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya penggunaan komputasional psikometrik yang telah melalui proses validasi. Dari 64 indikator yang disusun oleh tim peneliti, sebanyak 34 indikator telah dinyatakan tervalidasi dan menjadi bagian penting dalam pengembangan aplikasi TREX-AI.
Gun Gun juga menyebut bahwa TREX-AI tidak hanya mengandalkan proses data crawling, tetapi juga dirancang untuk melakukan analisis lebih mendalam terhadap berbagai narasi yang berkembang di ruang digital. Sistem tersebut juga diarahkan agar mampu membaca narasi dari berbagai platform, termasuk media sosial dan media arus utama.
Gun Gun juga mengharapkan agar hasil analisis tersebut nantinya dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pemangku kepentingan, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kementerian Agama. Selain aplikasi, penelitian ini juga menghasilkan sejumlah luaran, di antaranya blueprint kebijakan, buku, dan policy brief bagi pembuat kebijakan.

Penyerahan Sertifikat sebagai bentuk penghargaan oleh Dekan Fdikom UIN Jakarta kepada perwakilan Puspenma Kemenag dan LP2M (DNK TV/Wafiq Mualim Adib)
Salah satu temuan yang dinilai menjadi kebaruan penelitian adalah penerapan komputasional psychometric dalam mengukur risiko ekstremisme. Selain itu, tim peneliti juga melakukan pemetaan terhadap narasi-narasi yang memiliki kecenderungan ekstremisme pada berbagai platform digital.
Salah satu peserta pada kegiatan public expose, Perwita Suci turut memberikan pendapatnya terkait alat ukur yang dapat menjadi solusi untuk mengidentifikasi ekstremisme keagamaan di ruang digital.
“Bahkan menurut saya, bagus juga jika alat ukur ini tidak hanya digunakan kepada generasi muda, tetapi juga untuk melihat para ASN di berbagai kementerian. Karena ekstrimisme keagamaan tidak hanya menjangkit generasi muda,” tutur Perwita.
Perwita juga berharap agar penelitian tersebut dapat dilakukan secara longitudinal, agar penggunaannya dapat digunakan secara maksimal. “Harapannya penelitian ini bisa dilakukan secara longitudinal. Sehingga alat ukur dan aplikasi TREX-AI yang dikembangkan juga bisa lebih maksimal. Terlebih lagi jika bisa melakukan kolaborasi lintas instansi pemerintah dan institusi pendidikan,” katanya.
Selain itu, ketua peneliti menekankan pentingnya literasi digital, literasi politik, dan kemampuan mengendalikan diri (self-control) bagi generasi muda dalam menghadapi arus informasi di era algoritma, khususnya konten berisiko ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Menurutnya, durasi penggunaan media sosial tidak otomatis membuat seseorang menjadi ekstrim, sehingga diperlukan kesadaran dalam mengonsumsi informasi serta pemahaman nilai dan agama yang kuat.
“Mawas diri atau self-control itu jadi penting apalagi kalau mengkonsumsi dengan intens hal-hal yang sifatnya itu berisiko untuk tertular seperti ekstremisme radikalisme, terorisme, kalau tidak punya basis nilai dan ideologi atau ajaran agama yang sebelumnya kuat. Media sosial itu sebenarnya tidak berkorelasi positif dengan naiknya ekstremisme, jadi orang yang scroll lama belum tentu jadi ekstrim kalau dia sudah punya self-control,” tambahnya.
Leave a Reply