DNK TV

Muda, Kreatif, Produktif

Dorong Kesadaran Kolektif, DEMA Fdikom Angkat Urgensi Ruang Aman di Kampus

Pembawa acara memulai rangkaian Seminar Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa yang digelar DEMA Fdikom UIN Jakarta melalui Zoom Meeting, Rabu (10/4). (DNK TV/Trie Agusthin Ferdina)

  Dalam upaya mendorong terciptanya kebijakan publik yang aman dan nyaman di lingkungan kampus, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah  dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta masa bakti 2026 menggelar Seminar Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa bertema “Melawan Kekerasan Seksual di Kampus, Membangun Ruang Aman melalui Kebijakan dan Kesadaran Kolektif”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa Fdikom UIN Jakarta, Senin (6/4).

Dalam sambutannya, panitia menegaskan bahwa tema seminar ini bukan sekadar slogan, melainkan ajakan bagi mahasiswa  untuk lebih peka, peduli, dan berani memperjuangkan lingkungan kampus yang aman, bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. “Kampus seharusnya menjadi ruang tumbuh yang sehat, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut. Melalui seminar ini, kami berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga kesadaran bersama bahwa perlindungan mahasiswa dan pemberdayaan perempuan adalah tanggung jawab kolektif,” ujar Dita Amelia selaku pembawa acara.

Ketua Umum DEMA Fdikom 2026, Muhammad Zidan Ramdani, menyampaikan bahwa seminar ini merupakan langkah preventif untuk mendorong kampus lebih serius dalam menghadirkan kebijakan ruang aman. Ia menyoroti peningkatan kasus kekerasan seksual di Indonesia setiap tahun dan mengajak mahasiswa untuk turut berperan aktif dalam membangun lingkungan yang lebih aman. “Harapannya kegiatan ini dapat membawa manifestasi bersama, membuka wawasan baru tentang cara membangun ruang aman, dan bagaimana merespon kekerasan seksual di sekitar kita,” jelas Zidan dalam sambutannya.

Duta Genre Tangerang Selatan sekaligus Duta Genre UIN Jakarta 2023, menekankan bahwa kekerasan seksual tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga mencakup tindakan verbal, non-verbal, hingga relasi kuasa. Ia menjelaskan bahwa candaan bernuansa seksual, catcalling, maupun tekanan dari pihak yang memiliki otoritas, seperti dosen atau senior, termasuk bentuk kekerasan yang kerap dianggap wajar.

Narasumber pertama, aktivis perempuan Indah Allawiyah, memaparkan maraknya kasus pelecehan seksual serta dampak serius yang dialami korban. Indah juga membagikan pengalamannya sebagai penyintas untuk mendorong peserta berani bersuara dan berharap tidak ada lagi korban yang mengalami hal serupa dan menegaskan pentingnya edukasi serta keberanian melapor. 

Pemaparan materi mengenai perspektif gender dan kekerasan terhadap perempuan oleh narasumber, Khofifah  Aqsa (DNK TV/ Trie Agusthin Ferdina)

Sementara itu, Presiden BEM Universitas Brawijaya 2023, Khofifah Aqsa, membahas konstruksi gender yang masih menempatkan perempuan sebagai kelompok marginal. “Selama perempuan masih dipandang lemah, kesetaraan gender tidak akan benar-benar terwujud,” ujarnya. Khofifah menutup materinya dengan menekankan bahwa perubahan cara pandang masyarakat adalah kunci dalam menghapus kekerasan seksual.

Reporter: Trie Agustin Ferdina

Juru Kamera: Binta Fauziah

Koordinator Liputan: Intan Nuraeni

Redaktur: Aisyah Salsabila, Zaskia Nizwa, Raihan Al Fathir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *