
Suasana diskusi acara Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (20/4). (DNK TV/Aniisah Luthfiah)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat talenta riset nasional dengan membidik mahasiswa dan talenta muda sebagai penggerak utama inovasi masa depan melalui acara Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize bertajuk “Menjemput Talenta Riset dari Sekolah Hingga ke Panggung Dunia” yang berlangsung di Ruang Jirap, Lantai 3, Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Edy Giri Rachman Putra, menyampaikan bahwa acara ini digagas untuk memberikan gambaran nyata bagi para peneliti, dosen, dan mahasiswa bahwa Indonesia memiliki potensi besar di bidang IPTEK.
“Kita ingin memberitahu bahwa di Indonesia sebenarnya juga ada penghargaan penghargaan seperti hadiah Nobel, seperti Habibie Price, Nurtanio Award, atau Innovator Award, dan sebagainya. Artinya itu adalah kelasnya Nobel Prize untuk Indonesia” ujar Edy.
Kepala BRIN, Arif Satria, juga menekankan pentingnya strategi untuk menarik talenta unggul dari berbagai belahan dunia guna memperkuat ekosistem riset di Indonesia. Dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa fasilitas riset yang mumpuni kini menjadi daya tarik utama bagi para peneliti.
“Kita ingin melakukan brain gain, yaitu menarik talenta-talenta yang dahsyat dari berbagai negara untuk memperkuat kapasitas kita. Tentu saja dengan fasilitas BRIN yang sekarang sudah sangat bagus sekali,” kata Arif.

Pengesahan dokumen kolaborasi antarlembaga guna memperkuat ekosistem riset nasional usai diskusi. (DNK TV/Aniisah Luthfiah)
Perluasan skema dukungan riset saat ini membuka akses bagi mahasiswa untuk mendapatkan bantuan konkret dalam penelitian. BRIN sebagai lembaga pendanaan (funding agency) menyediakan berbagai dukungan, mulai dari pendanaan riset, penggunaan infrastruktur, hingga mobilitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu skema yang tersedia adalah program Research Assistant (RA), yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam proyek penelitian serta memperoleh pengalaman di laboratorium profesional.
Lebih lanjut, Edy menekankan bahwa untuk menjadi peneliti kelas dunia, kualitas fundamental yang paling utama bukan hanya sekedar nilai akademik, melainkan growth mindset (pola pikir berkembang). ”Belajar itu sepanjang hayat, bukan hanya untuk ujian. Peneliti harus melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang. Di dunia riset, ketika satu masalah belum selesai, kita cari lagi, kita gali lagi. Itulah esensi dari growth mindset,” tambahnya.
Pemerintah melalui BRIN memperluas peluang bagi talenta lokal untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi guna memperkuat posisi Indonesia dalam kancah sains global di masa depan.
Leave a Reply