DNK TV

Muda, Kreatif, Produktif

Studium Generale Angkat Peran Kecerdasan Buatan dalam Komunikasi Islam

Foto bersama narasumber, sivitas akademika, dan mahasiswa saat Studium Generale Program Studi Magister dan Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam di Ruang Theater Lantai 2 Fdikom UIN Jakarta, Kamis (25/6). (DNK TV/Ahmd Fadillah Syafe’i) 

Program Studi Magister dan Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menggelar Studium Generale bertema “Komunikasi Islam di Era Kecerdasan Buatan” di Ruang Teater Lantai 2 Fdikom UIN Jakarta, Kamis (25/6). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan komunikasi Islam di era digital sekaligus mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara lebih bijak dan bertanggung jawab.

Dekan Fdikom UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengajak mahasiswa memanfaatkan perkembangan media digital sebagai ruang untuk menghasilkan karya dan menyebarkan gagasan yang bermanfaat. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan budaya akademik yang produktif agar mampu melahirkan intelektual muda yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kalau semakin banyak publikasi yang baik, diseminasi gagasan dan pikiran dengan baik, itu bukan hanya menguatkan institusi, tetapi juga menjadi inkubator lahirnya intelektual-intelektual muda yang kuat melalui karya,” ujarnya saat memberikan keynote speech. 

Narasumber Studium Generale, Ismail Fahmi, menyampaikan materi tentang komunikasi Islam di era kecerdasan buatan. (DNK TV/Ahmd Fadillah Syafe’i) 

Pada sesi pemaparan materi, Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sekaligus Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak mengubah prinsip dasar komunikasi Islam. Menurutnya, unsur komunikasi, seperti komunikator, pesan, media, dan penerima, tetap sama. Perbedaannya terletak pada media yang digunakan. Jika dahulu dakwah lebih banyak dilakukan secara tatap muka, kini media digital dan teknologi kecerdasan buatan menjadi bagian dari penyampaian pesan kepada masyarakat.

Perubahan media juga diikuti dengan perubahan cara masyarakat menerima informasi. Ismail Fahmi mengatakan, saat ini masyarakat lebih terbiasa mengonsumsi konten singkat sehingga penyampaian pesan keislaman perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. “Dulu orang masih memiliki waktu untuk menyimak video yang panjang. Namun, saat ini video panjang sudah jarang ditonton, intensi menonton hanya 8 detik. Itu menjadi tantangan, bagaimana kita bisa menyajikan pesan-pesan keislaman yang luas dan dalam dengan format yang singkat,” katanya.

Namun, Ismail Fahmi mengingatkan bahwa teknologi kecerdasan buatan tetap memerlukan peran manusia dalam memastikan kebenaran informasi. Ia memperkenalkan konsep Human in the Loop (HITL), yaitu manusia tetap bertanggung jawab melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan kecerdasan buatan. 

Salah seorang peserta, mahasiswa Magister Manajemen Dakwah, Nufus, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti Studium Generale tersebut. Ia mengatakan bahwa selama ini teknologi kecerdasan buatan hanya digunakan untuk membantu mengerjakan tugas, tetapi melalui kegiatan ini ia memahami pentingnya mengetahui mekanisme kerja kecerdasan buatan agar dapat menggunakannya secara lebih bijak.

“Biasanya aku menggunakan AI hanya sebagai alat bantu mengerjakan tugas. Setelah mengikuti materi tadi, aku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana AI bekerja, mulai dari mekanisme hingga proses di baliknya,” ungkap Nufus.

Sebagai penutup, Ismail Fahmi mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan merupakan alat bantu yang tetap memerlukan peran manusia untuk memeriksa dan memverifikasi setiap informasi yang dihasilkan. “Jangan pernah menggunakan hasil AI tanpa melakukan cross-check. Jangan menganggap semua jawaban AI pasti benar hanya karena bahasanya terlihat meyakinkan. AI boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa kembali,” pesannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *