
Press conference DISLABEL “Ruang Tanpa Batas” oleh Rumah Sahabat Inklusi dan penyelenggara di Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan. (DNK TV/Binta Fauziah)
LSPR Institute menggelar acara Dislabel bertajuk “Ruang Tanpa Batas” yang berlangsung di Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, pada Jumat (24/7). Acara ini diselenggarakan sebagai langkah untuk meruntuhkan stigma serta mendorong kesetaraan, inklusivitas, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Acara tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Teuku Jordan Zacky, selaku pendiri Rumah Sahabat Inklusi yang membagikan wawasan mengenai inklusi disabilitas dan pemberdayaan sosial, Angkie Yudistia yang memaparkan pentingnya inklusi bagi disabilitas, Ms. Aeni yang membagikan perspektif tentang pendidikan dan pemberdayaan, serta Sekar Ajeng
seorang mahasiswa LSPR berprestasi sekaligus advokat muda difabel, sosok inspiratif yang aktif memimpin berbagai inisiatif sosial berdampak di lembaga Indonesia Ambil Peran dan Daraloka.
Ketua Penyelenggara Acara Dislabel “Ruang Tanpa Batas”, Maritzki Cesario menjelaskan bahwa acara ini dilatarbelakangi oleh masih minimnya pemenuhan hak penyandang disabilitas. Berangkat dari permasalahan tersebut dan minimnya program sosial yang menarik, mahasiswa Community Development (ComDev) tergerak untuk mengangkat isu inklusi melalui program berbasis komunitas.
Maritzki Cesario mengungkapkan dua tujuan utama di balik inisiatif ini, yaitu menghapus stigma negatif terhadap penyandang disabilitas sekaligus membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk meraih masa depan.
“Tujuan utamanya ada dua. Pertama, mengubah stigma masyarakat bahwa penyandang disabilitas juga mampu menunjukkan bakat seperti bernyanyi, melukis, dan lainnya. Kedua, memotivasi mereka agar makin percaya diri dalam membangun masa depan yang cerah.” ujar Maritzki Cesario.

Sesi talkshow interaktif bersama para narasumber mengenai pentingnya kesetaraan, inklusivitas, dan pemberdayaan penyandang disabilitas. (DNK TV/Binta Fauziah)
Dalam proses pelaksanaannya, penyelenggara menghadapi berbagai tantangan yang mencakup aspek teknis maupun emosional saat berinteraksi langsung dengan para penyandang disabilitas. Panitia memiliki peran penting untuk memperhatikan setiap detail rangkaian kegiatan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan bagi seluruh peserta. Penyesuaian terhadap kebutuhan fasilitas, seperti menjaga kenyamanan suhu ruangan hingga memastikan ketersediaan toilet yang ramah disabilitas, menjadi prioritas selama acara berlangsung. Di samping kesiapan fasilitas, kesiapan mental serta kepekaan panitia dalam memahami kondisi emosional dan dinamika respons peserta difabel juga menjadi faktor penting dalam menyukseskan kegiatan inklusif ini.
Setelah acara Dislabel terselenggara, penyelenggara panitia yang terlibat menaruh harapan besar. Maritzki Cesario selaku Ketua Pelaksana berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah stigma negatif serta memberikan ruang yang lebih setara, aman, dan inklusif bagi para penyandang disabilitas.
Sementara itu, Farhan Fawaz Ramadhan mewakili peserta berharap agar gerakan dan inisiatif inklusif ini dapat terus dilanjutkan serta menjangkau wilayah yang lebih luas. Melalui upaya edukasi dan kolaborasi ini, seluruh pihak optimistis bahwa ruang tanpa batas dapat terwujud demi mendorong pemberdayaan masyarakat yang lebih peka dan berempati.
“Semoga acara-acara seperti ini bisa berlanjut ke mungkin yang ranah yang lebih luas lagi. Mungkin karena ini venue-nya di Jakarta, mungkin bisa di venue apa tempat lain gitu, seperti di Bandung, Jogja, dan lain-lain.” ujar Farhan Fawwaz.
#DNKNews
#Disabilitas
#Inklusivitas
#RuangTanpaBatas
Leave a Reply