
Diskusi bersama bapak. Gun Gun Heryanto terkait KNKI VI dan ASKOPIS di Jakarta Pusat (DNK TV/Azka Rizki Zidan)
Konferensi Nasional Komunikasi Islam (KNKI) VI dan Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) menggelar konferensi bertemakan “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation” di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat pada Rabu (12/8).
Ketua pelaksana, Suhendra, mengatakan latar belakang diambilnya tema acara ini adalah: “Berhubungan dengan Islam Media dan Digital Society ini kontemporer banget, up to date dengan kondisi era digital sekarang dan ini sangat menjadi permasalahan yang penting untuk kita diskusikan apalagi segala permasalahan yang ada ini berkaitan dengan dunia digital komunikasi, sekarang itu tidak bisa lepas antara komunikasi dan digital maka itu tema yang kita usut”.
Kegiatan ini menghadirkan keynote speech Menteri Digital Affairs Meutya Viada Hafid, Rektor UIN Jakarta Asep Saepudin Jahar sebagai opening remarks, serta Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto sebagai opening speech. Konferensi juga diisi dengan lokakarya penguatan kelembagaan dan keilmuan serta workshop nasional penulisan jurnal ilmiah internasional bereputasi, yang menghadirkan akademisi dan praktisi komunikasi dari berbagai institusi.

Foto bersama narasumber dan peserta usai acara KNKI VI dan ASKOPIS di Jakarta Pusat (DNK TV/Azka Rizki Zidan)
Suhendra menjelaskan UIN Jakarta sebagai pionir leader PTKIN di Indonesia. Maka, harus juga menjadi pionir dari kegiatan Asosiasi Komunikasi Penyiaran Islam di Indonesia terlebih dengan berkolaborasi dengan Konferensi Internasional maka ini akan menambah daya saing UIN Jakarta memperkenalkan ASKOPIS atau KPI UIN Jakarta di ranah nasional bahkan internasional.
KNKI VI menjadi wadah bagi akademisi dan praktisi untuk membahas perkembangan komunikasi Islam di tengah transformasi digital. Sindy, mengatakan, “forum ini bisa menjadi ruang untuk memperluas wawasan akademis, berdiskusi dengan para pakar nasional, serta bisa menambah relasi (networking) dengan para akademisi yang keren-keren dari seluruh Indonesia”.
Leave a Reply