DNK TV

Muda, Kreatif, Produktif

Project Multatuli Soroti Krisis Iklim di INZS 2026

Diskusi panel tentang “Suhu Neraka, Polusi, Kota yang Tenggelam: Apa yang Bisa Dilakukan Warga Kota?” oleh Foreign Policy Community of Indonesia Climate Unite di Balai Kartini, Jakarta Selatan. (DNK TV/Naufal Octavia Ramadhani)

Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 yang diinisiasi oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Climate Unite kembali digelar sebagai konferensi iklim terbesar di Indonesia di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada Sabtu (1/8). Project Multatuli bersama FPCI menggelar sesi diskusi panel khusus bertajuk “Suhu Neraka, Polusi, Kota yang Tenggelam: Apa yang Bisa Dilakukan Warga Kota?”. 

Mempertemukan menteri, pejabat, diplomat, hingga masyarakat sipil untuk mendorong langkah konkret menuju net-zero emission, ajang ini menghadirkan diskusi panel bersama Redaktur Pelaksana Project Multatuli Ronna Nirmala, William Sabandar (COO Indonesia Business Council), Novita Natalia Kusumawardani (Co-Founder Bicara Udara), dan Taufiq Supriadi Yusuf (Founder Survival Architecture Indonesia), yang dimoderatori oleh Vania Fitryanti Herlambang (Puteri Indonesia Lingkungan 2018). Diskusi ini membedah berbagai persoalan nyata yang dirasakan warga perkotaan, mulai dari suhu panas ekstrem, kenaikan permukaan air laut, banjir, kualitas udara buruk, krisis air, hingga lonjakan harga pangan. 

Ronna mengungkapkan bahwa isu lingkungan mendominasi hingga 70 persen dari total porsi peliputan di Project Multatuli. Ronna menilai krisis seperti suhu panas ekstrem dan polusi udara di perkotaan tidak berdampak secara merata, tetapi lebih banyak dirasakan oleh kelompok masyarakat yang lemah secara struktural. “Ketika ngomongin polusi dan suhu, itu orang-orang yang powerless yang paling berdampak,” ujarnya.

Ronna menambahkan, kebijakan perkotaan kerap memperparah ketimpangan struktural. Ia menilai berbagai kebijakan perkotaan lebih banyak menguntungkan kelompok masyarakat di lapisan atas, sementara masyarakat bawah harus menanggung beban kerentanan ekologis terparah. 

Padahal, persoalan ekologis tidak lepas dari proses hulu hingga hilir yang turut melibatkan andil produsen dalam sistem kapitalis. “Ketika bicara masalah lingkungan itu terjadi karena proses yang muncul dari hulu ke hilir ada. Kalau dalam dunia kapitalis ini ada juga produsen yang menciptakan barang-barang seperti plastik dan segala macam” jelasnya. 

Menurut Project Multatuli, pertanggungjawaban penanganan krisis ekologi tidak boleh berhenti pada imbauan moral kepada konsumen saja. Tanggung jawab struktural dari korporasi, sektor swasta, hingga pembuat kebijakan harus turut dituntut secara adil agar akar persoalan dapat diselesaikan. Sebagai media independen yang mengusung prinsip jurnalisme publik, Project Multatuli berkomitmen untuk terus mengambil ruang dan menyuarakan isu-isu kelompok termarjinalkan yang kerap dilewatkan oleh media arus utama.

Ronna berpesan untuk generasi muda dan mahasiswa agar tak acuh terhadap situasi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan. “Jangan lupa bahwa kita yang beruntung, kamu juga termasuk yang beruntung, itu juga punya peran untuk membantu yang rentan, untuk kemudian tetap menyuarakan, untuk tetap mengambil bagian kontribusi menjadi kritis,” ujar Ronna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *