
Mahasiswa Tronjal-Tronjol Mania yang terdiri dari kolaborasi berbagai organisasi mahasiswa menyelenggarakan kegiatan Pilu di Bulan Sembilan di Tangga Perpustakaan UIN Jakarta, Sabtu (20/9). Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif atas berbagai peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia.
Rangkaian kegiatan ini terdiri dari sesi diskusi, pameran kolektif, lapak baca, dan ruang perjumpaan yang bertujuan mendorong kesadaran sejarah serta keberanian generasi muda dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan. Ketua Pelaksana Pilu di Bulan Sembilan, Aksara Niti Wacana Sukma, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari pentingnya mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi agar tidak hilang dari ingatan masyarakat, khususnya mahasiswa.
“Teman-teman mahasiswa atau masyarakat perlu mengingat kembali, karena kalau mereka lupa, mereka tidak akan ingat bagaimana negara pernah melakukan tindakan yang merugikan masyarakatnya sendiri. Selain itu, berbagai persoalan masa lalu juga belum sepenuhnya dituntaskan,” ujar Aksara.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di masa lalu tidak dapat dianggap selesai begitu saja. Hingga saat ini, masih banyak korban yang terdampak dan menunggu kejelasan atas kasus-kasus yang belum terselesaikan.
“Yang masih tersisa sampai hari ini adalah penuntasan kasus-kasus yang sudah ada. Banyak korban yang terdampak oleh berbagai peristiwa di masa lalu, tetapi persoalan tersebut belum mendapatkan perhatian yang memadai,” ungkap Aksara.
Lebih lanjut, Aksara menekankan bahwa mengingat sejarah merupakan bentuk keberanian. Menurutnya, generasi muda, khususnya mahasiswa, membutuhkan keberanian untuk berekspresi dan menyampaikan pandangan secara terbuka karena kebebasan berekspresi menjadi salah satu cara untuk menyuarakan kritik dan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial. Ia juga mengingatkan bahwa minimnya pemahaman terhadap sejarah dapat membuat generasi muda rentan mengalami pembungkaman, kehilangan daya kritis, serta gagal belajar dari pengalaman masa lalu yang dapat terulang kembali.
Kegiatan tersebut juga mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya Aditya Ramadhan, yang mengaku tertarik mengikuti Pilu di Bulan Sembilan karena melihatnya sebagai ruang untuk menghidupkan kembali suara-suara yang selama ini kurang terdengar.

“Pilu di Bulan Sembilan mengingatkan kita pada sejarah kelam di bulan September. Dengan mengikuti kegiatan ini, kita juga berkontribusi pada suara-suara yang dulu sunyi. Sekarang kita mencoba bersuara kembali, khususnya di lingkungan UIN Jakarta,” kata Aditya.
Bagi Aditya, sesi diskusi dan pameran menjadi bagian acara yang paling berkesan. Menurutnya, berbagai kolektif yang terlibat berhasil menghadirkan karya dan gagasan yang memperkaya pemahaman peserta terhadap isu sejarah dan kemanusiaan. Ia juga menilai antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi turut menciptakan suasana yang hidup dan mendorong lahirnya berbagai pandangan kritis terkait peristiwa September.
Ketika diminta menggambarkan kegiatan tersebut dalam satu kata, Aditya memilih kata “Lawan”. Baginya, semangat melawan lupa dan ketidakpedulian menjadi pesan utama yang dihadirkan melalui acara tersebut. Ia berharap Pilu di Bulan Sembilan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan guna meningkatkan kesadaran mahasiswa UIN Jakarta terhadap isu-isu September, khususnya yang berkaitan dengan penegakan hak asasi manusia.
Senada dengan itu, Aksara berharap kegiatan ini mampu membuat mahasiswa dan masyarakat lebih peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan sekaligus lebih berani menyampaikan pandangan di ruang publik. “Harapan saya, teman-teman mahasiswa maupun masyarakat menjadi lebih aware terhadap peristiwa-peristiwa September dan lebih percaya diri untuk berekspresi di ruang publik,” pungkasnya.
Reporter ; Ahmad Tri Mufadhol
Juru Kamera; Annisa Lutfiah
Koordinator Liputan; Aulia Azka Ramadhina
Redaktur: Aisyah Salsabila, Zaskia Nizwa Hairunisa, Raihan Al Fathir
Leave a Reply